• Home
  • keyboard_arrow_right Ulumul Hadits
  • keyboard_arrow_right Daurah Takhrij Wa Dirosat Asanid

Ulumul Hadits

Daurah Takhrij Wa Dirosat Asanid

Ilmu Azhary Admin October 23, 2019 50


Background
share close

Rabu, 21 Agustus 2019

Sakan Thalibat Safara Al-Hidayah, Hay Asyir

Seorang Syeikh yang karismatik, teduh dan berwibawa. Keturunan dari seorang ulama besar yang dijuluki sebagai sumbernya hadist masyarakat Mesir. Sudah lama sekali para Mahasiswa Azhar ingin duduk di majlis beliau, tapi mungkin baru hari ini bisa dipertemukan. Awalnya sempat kecewa, karena di pamflet tertulis bahwa majlis pertama jatuh pada hari Senin, dan ternyata ketika sudah di Hay Asyir mendadak dibatalkan. Ditambah kesalahpahaman yang awalnya mengira akan diisi oleh Syeikh Aiman Haggar dan Syeikh Muhammad Ma’bad. Tiba-tiba sore menjelang malam, Syeikh Aiman memberi kabar bahwa beliau tidak bisa hadir di Sakan banat, karena mengisi di Sakan banin.

Namun belajar tetaplah belajar, tak harus terkekang oleh Syeikh tertentu. Karena ini pengalaman pertama saya menyentuh pembahasan Takhrij wa Dirosat Asanid, saya ingin sedikit berbagi ilmu perihal apa saja yang saya dapatkan dalam majlis tersebut. Bismillah.

Takhrij secara bahasa adalah masdar dari fi’il (خرّج- يخّرج -تخريجا) Yang artinya mengeluarkan/menampakkan.Secara istilah, takhriij ialah menisbatkan suatu hadits kepada  Mashaadir Ashliyyah (kitab kitab) yang bersanad. Namun, jika tidak bisa maka merujuk kepada mashadir far’iyyah. Kalau tidak bisa juga berarti menukil sanad-sanad yang ada disertai dengan keterangan status hadits. Beliau menuliskan definisi tadi di papan tulis, lalu segera menghapusnya.

“Ayo, siapa diantara kalian yang tahu apa manfaat ketika kita mempelajari ini?” ucap Syeikh Muhammad Ma’bad membuka pertanyaan.

“Untuk membedakan antara hadits shohih dengan hadits saqim, Syeikh”, jawab salah satu peserta dengan pelan.

“Betul, mumtaz. Lalu kalau sudah tahu ini hadits sohih ataupun dhoif, apa tsamarah setelahnya?”

“Untuk diamalkan atau tidaknya, Syeikh”

Ahammiyah yang lain adalah:

-Mengetahui thuruq hadits, baik secara mutawatir maupuun ahad.

-Mengetahui lafadz lafadz hadits yang beragam.

-Mengetahui kisah dibalik sebuah hadits ataupun asbab wurudnya.

-Mengetahui sosok seorang rawi atau tokoh dalam hadits yang memiliki kedudukan penting.

Berlanjut kepada pembahasan Mashadir Takhrij. Mashadir disini dibagi menjadi dua; Asliyyah dan Far’iyyah. Apa itu mashdar asli? Dia adalah sebuah kitab yang didalamnya diriwayatkan hadits beserta sanadnya. Contoh : Al Jawami’ (Jami Sohih Bukhari dan Sohih Muslim), Sunan (Sunan Abi Dawud, Tirmidzi, Nasai, Ibn Majah), Masaanid (Musnad Imam Ahmad bin Hambal),Ma’ajim (Mu’jam Al Kabir li Imam Thabrany),Al Ajza’ , dan lain lain.Berbeda halnya dengan mashdar far’iy yang tidak disebutkan sanadnya. Contohnya Kitab Majma’ az-Zawaid wa Manba’ Al-Fawaid li Imam al Haytsami.

Lalu dilanjut membahas perihal Wazhifatu Al-Mukharrij. Apa yang harus dia lakukan?

1. Menyebutkan mashdar haditsnya, baik ashliy maupun far’iy.
2. Menyebutkan object pembahasan hadits dalam masdar.

: المثال

(أخرجه البخاري : كتاب/ باب/ جزء/ صفحة/رقم )

3. Menyebutkan rawi hadits.
4. Menyebutkan matan hadits dan,
5. Mencantumkan hukum hadits yang digali.

Pemberian hukum disini bisa dengan menukil pendapat muhadditsin maupun ulama, atau dari pihak al-Mukharrij sendiri yang memiliki kapasitas ilmu.

Lantas, ada berapa macam-macam Takhrij?

Jawabannya adalah tiga:

Pertama : Mukhtashor
Merujuk dari kutubu sittah, atau cukup dengan dua kitab mashdar asli.

Kedua : Mutawassith
Mendatangkan mashadir lebih banyak dari yang pertama. misalnya dengan ditambahkan Shahih Khuzaimah, dan Masanid. lalu dipaparkan derajat hadits ataupun illat-nya.

Ketiga : Muthawwal
Sebisa mungkin menghadirkan mashadir tanpa terkecuali baik dari semua turuq, asanid dan hukumnya. Ini membutuhkan waktu yang panjang dan ijtihad yang luar biasa. Seperti dalam pembukuan rasaa’il ‘ilmiyyah, atau mentakhrij sebuah hadits yang belum pernah dihukumi sebelumnya. Di penghujung majlis Syeikh Muhammad Ma’bad menyebutkan beberapa kitab rujukan dalam Ilmu Takhrij:

1. Ta’shil (berupa qowaid dan syarh)
Contoh :
a. Kitab Ushul at-Takhrij wa Dirosat Asanid karya Duktur Muhammad Thahhan. Kitab at-Ta’shil li Syeikh Bakr Abdullah Abu Zayd.
b. Kitab Hushuulu  at-Tafrij bi Ushuuli at-Takhrij li Imam Abi Al-Faydh Al-Ghumary.

2. Tathbiq
Seperti dalam kitab Taghliiqu at-Ta’liq li Ibn Hajar al-Atsqolany.
Wabakdu, semoga beberapa maklumat diatas, juga bisa membantu pembaca dalam mempelajari Ilmu Hadist. Berlanjut pada pertemuan kedua nanti, inshaAllah akan mengupas tuntas tentang “Thuruq Takhrij Hadits”. Bidznillah.

Penulis: Najibah Al-Azhariyyah

Editor: Zulia Misbach

Sumber: https://www.facebook.com/2198192440243721/posts/2559936750735953/

Rate it
Previous post

Post comments

This post currently has no comments.

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *